Gantungan Harapan
Tahun ini, 2019,
aku telah menginjak usia yang ke 21. Aku ingin mundur ke beberapa tahun
belakang disaat aku mulai duduk di bangku SMA. Aku sangat ingat ketika wali kelasku
meminta aku dan teman-teman sekelas untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan
cita-cita masing-masing. Ketika tiba giliranku, aku memperkenalkan identitasku
dan kemudian menyampaikan bahwa cita-citaku adalah menjadi seorang ilmuwan.
Sebagian teman-temanku tertawa mendengar hal itu, sebagian lain tampaknya
terdiam mungkin karena terdengar itu terdengar terlalu tinggi, dan guruku
tersenyum dan berkata bahwa mudah-mudahan cita-cita itu tercapai. Alasanku ingin
menjadi ilmuwan masih terdengar bocah,
yaitu bahwa aku ingin terlihat keren dengan hasil penemuanku. Namun
aku belum mengetahui ingin menjadi ilmuwan di bidang apa. Cita-cita dengan
alasan hanya agar “terlihat keren” tersebut kemudian hanya menjadi ucapan
belaka.
Hampir
tiga tahun berlalu, kini aku berada pada masa akhir SMA. Masa dimana aku harus
menentukan langkahku kedepannya, yaitu kuliah. Cita-cita tanpa landasan yang
kuat tiga tahun lalu membuatku terlena menjalani masa SMA tanpa target yang
jelas. Aku tak tahu harus melangkah kemana sekarang, tak tahu apa yang ingin
aku tekuni, dan tidak ada hal yang aku persiapkan. Singkat cerita, akhirnya aku
memutuskan untuk memilih farmasi karena aku senang dengan kegiatan di dalam
laboratorium dan dengan itu aku juga bisa berusaha mewujudkan cita-citaku tadi.
Namun, karena terlambat menyadari bahwa aku terlena dan terlambat dalam mengambil
keputusan, akupun gagal pada kesempatan yang pertama, yaitu SNMPTN. Meski tahu
bahwa aku sudah terlambat aku berusaha di kesempatan kedua, SBMPTN. Aku sadar
betul bahwa persiapanku sangat minim sehingga aku sedikit beralih ke jurusan
lain, namun masih cukup terkait yaitu di jurusan kimia. Alhamdulillah, pada
kesempatan kedua ini aku cukup berhasil dengan lolos di pilihan ketiga. Setelah
tiga minggu menjalani perkuliahan, ternyata hati ini masih berkeinginan untuk
mengejar jurusan farmasi. Aku merenung, aku tahu bahwa jika aku memilih untuk
mundur dari sini, orang tuaku pasti akan kecewa. Disisi lain, jika aku memilih
untuk lanjut, hati ini akan terus bergejolak, setidaknya selama setahun pertama
perkuliahan. Tentu hal tersebut akan mengganggu perkuliahanku nantinya. Aku
akhirnya membicarakan ini dengan orang tuaku, lalu meminta maaf kepada mereka
bahwa aku ingin melepas kampus yang sekarang aku tempati. Ini adalah keputusan
terbesar yang pernah ku ambil dalam hidupku, menghadapi resiko akan gagal pada
keputusan yang kuambil dan lepasnya aku dari kampusku sekarang.
Aku
telah mengambil keputusan, aku akan berjuang kembali. Awalnya aku ragu
bagaimana aku akan mempersiapkan ini semua. Aku sadar jika aku memilih untuk
ikut bimbel, akan keluar biaya yang cukup besar untuk pendaftaran bimbel, uang
jajanku, serta uang transportasi karena kondisi ekonomi keluargaku sedang tidak
baik. Aku urungkan niatku dan memilih untuk belajar mandiri di rumah dengan
situs belajar online sebagai referensi. Setidaknya dengan itu aku mengurangi
uang jajan dan transportasi. Aku susun sendiri jadwal belajarku dan
kupersiapkan diriku sebaik mungkin untuk kali ini. Perjalanan tidak mulus,
lingkungan tidak suportif dan rasa pesimis menghantui. Namun, aku selalu
mencoba bangkit karena ini adalah keputusanku.
Persiapanku
dengan jatuh bangun di dalamnya akhirnya membuahkan hasil. Aku diterima di
Universitas Indonesia, kampus impian sebagian besar calon mahasiswa, di jurusan
yang aku perjuangkan, jurusan farmasi. Rasa bahagia yang luar biasa terpancar
dalam hati ini hingga menitikkan air mataku. Tak terhingga rasa syukurku kepada
Tuhan atas jawaban-Nya terhadap perjuanganku. Bagaimana tidak, belum ada
sejarahnya dalam keluarga besarku yang berhasil menapakkan kaki di kampus
kuning ini. Keluargaku tidak menuntut apapun dariku. Tapi aku sadar, bahwa
setidaknya dengan berhasil sampai kesini, tergantung harapan mereka kepadaku,
agar aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan jika memungkinkan dapat
memperbaiki keadaan ekonomi keluargaku di masa yang akan datang. Selain
keluargaku, Indonesia juga secara tidak langsung menggantungkan harapan
kepadaku, memberikan kesempatan kepadaku untuk menempuh pendidikan tinggi dan
kelak di masa depan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan bangsa
ini.
Kini
aku telah berada di tahun kedua perkuliahan. Aku sedang memperjuangkan harapan
keluargaku dan harapan Indonesia terhadapku. Aku berharap dapat memperoleh
Beasiswa Bazma Pertamina untuk menunjang perkuliahanku. Terutama sekarang ini
dan semester depan akan cukup banyak pengeluaranku untuk mata kuliah praktikum.
Setidaknya aku ingin mengurangi beban orang tuaku. Akupun kini telah mengetahui
bahwa aku ingin menjadi seorang ilmuwan agar dapat menebar manfaat
sebanyak-banyaknya kepada masyarakat luas melalui riset-risetku di masa depan.
Oleh karenanya, aku akan terus berjuang demi cita-citaku itu.
Comments
Post a Comment